Ahlan wa Sahlan

Welcome to 'positive-optimistic' zone. Let's be one of Indonesian pride generation. Glad to meet you, have a good time n' get your nice surfing,
Peace...(*_*) !!

Sabtu, 03 Desember 2011

Kematian Kahlil Gibran

(el-hakim, 031211-02:15:06)
Lagi
Angin, raya, kenanga. Alam, jingga,lena
Debu, hempas, tumpas. Embun, binal, raba
Hijab, malam, bata-terbata. Hitam, sukma, mesra
Cemeti, derai, derai. Bah.... Satu, satu, cakrawala
Jerit? Tanya? Sinis. Pernah, tak sisa, bungkam
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ................................

Dayu biru.... baringkan aku diharibaan desa lembayung sang Gibran.
Di alam transisi ini, kutatap jelas wajahnya nan lugas
Yah, aku begitu mengenalnya, acap kubertemu saat alam berparas hijau hingga kemuning
Ia tersenyum tawar, merayuku tandang di gubuknya yang reot renta
Kupandang saja sgala citra halamannya hingga lumat
Di dindingnya, sempat kutangkap lukisan kepayang sang Jalaluddin El-Rumy, rona merah sang William Shakespeare sampai raut biru sang Melly Goeslaw, hingga akhirnya kudapati raut Gibran yang layu-kemayu tepat di depan kedua bola mataku.
Rambutnya yang berwarna buih lautan, habis sudah tergulung ombak samudera
Wajahnya yang berlipat-melipat, bercerita tentang lamanya waktu yang telah ia lalui
Matanya tak lagi biru laut, lukisan senja jelas terlugas dalam bulatan korneanya
Ia hanya diam, mewakili luasnya segara, menggantikan lapangnya langitan malam ini.
Sejenak, waktu menjadi batu hitam tanpa ruh..., curam menjurang tanpa tuan....
Gigil beku malam dera, meneror pitasuara untuk memecah kebisuan yang memabukkan :

“ Tuan Gibran. Apa yang kau lebih tau dariku...? katakanlah...”

     ................................................. . . . . .  .  .   .   .    .    . diam.

“ Yah, aku yakin kau akan berkata sama, bahwa tandatanya dan pemahaman itu sebenarnya samar bahkan tak ada. Bahwa semuanya mengakui dan berakhir pada sebuah persetujuan bahwa segalanya tak ubah seperti dimensi kematian, garis terlarang bagi jasad-gemasad dina. "
" Tuan Gibran, Apa kau punya Tuhan?? "

   .................................................. . . . . .  .  .   .   .    .    . diam.

Bibirku bergetar kembali :
" Aku punya Tuhan. Aku masih memiliki hak untuk sebuah keinginan, yaitu aku tak ingin 'ini' adalah kutukan. Namun yang pasti, disaat berada pada lubuk yang terkelam ataupun saat-saat dimana aku berada di buaian pucuk rembulan..., tak pernah kutemui kebalikan dari sebuah kutukan itu. Yah... seperti kematian itu... (anak manusia menyebutnya sebagai misteri...)
Wahai, dengarlah. Segenap jiwaraga kubaringkan di haribaan sebuah keagungan diatas keagungan, pemilik ‘keagungan’ dibawah keagunganNya...
  Begitulah tuan Gibran. "
  
    ..................................................... . . . . .  .  .   .   .    .    . diam.
Bibir sang Gibran terkunci rapat-rapat...
Mata sang Gibran menelan dalam-dalam kebiruanku yang melampaui birunya awan dan lautan...
“ ...aku tau kau hanya akan diam, bisu bahkan membatu tanpa nyawa. Sebab ngarai fana itu telah habis untuk mengantarmu sampai ke muara...” " dan akupun tau bahwa kata yang termegah adalah diam..."

Kening sang Gibran kian luruh...
Raut sang Gibran begitu malang, semalang alam kehidupan dunia ini...
Kini,
Mata sang Gibran tak mampu lagi untuk sekedar melirik diriku...
Samar kulihat rupa-parasnya kian memudar... Dan akhirnya.....
Sang Gibran selimuti diri dengan kafan hitam kelamnya malam, tanpa sebutir kata pamit ia ucap untukku.

Kini, aku kabarkan ke seluruh pelosok alam, seonggok Kahlil telah tewas tergulung ombak lautan kata-katanya, terhempas badai samudera kalimat-kalimatnya, tergilas ribuan jejak kaki yang ternyata tiada titik, terkubur angin beku tanpa pusara.
Gibran mati oleh getaran bibirku....

 ( inna lillaahi wa inna ilaihi rooj'uun.... )

Dan...
Takkan pernah terlahir kembali Gibran-gibran yang baru ataupun Gibran yang lain.
Sebab, ‘Gibran-gibran’ adalah batu itu, bumi itu, langit itu, dan samudera itu... sampai kepada kita itu. Fana.

Apa kau, aku, ia, dan mereka ingin bertanya, di manakah letak sebuah muara??
Aku khabarkan, bahwa ia ada dipertigaan malam, di simpang jalan di antara ada dan ketiadaanmu...
(itu pula yang dikatakan seseorang kepadaku, di sana sungguh tiada sekat tercipta, semuanya begitu dekat, begitu sakral, begitu masyuk, dan siapapun yang ingin kau temui telah menunggu di sana, ia telah berkata benar atas kebenaranNya.)
Tapi. Jangan paksa aku untuk menjawab apakah aku tersenyum, tertawa, atau muramdurja.
Sebab kita disekat alam nisbi, malaikatpun takkan mampu untuk berkata.
Aku hanya mampu untuk merasa, sebab hanya itu yang tersisa.
Yang pasti dan hakiki, bahwa 'itu' adalah nikmatNya, anugerahNya. Hamdan Katsiran.

Akhir kata, aku mencintaimu selayak awan, dan akan tetap ada ruang untuk aku biaskan senyum karenanya.

(gemericik bening mulai mereda, gemuruh langitan mulai meghela, hitam malam mulai berperang dengan jingga fajar shidiq, tak lama lagi raungan ayam jantan akan segera merobek layar rahasia, biarlah semua berjalan apa adanya, dan kini, hamparkanlah permadani suci untuk menghinakan diri padaNya. Esok, realitas takkan mengerti kalimat ampun)

Tiada kata tamat,

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komen sobat di sini..