Ahlan wa Sahlan

Welcome to 'positive-optimistic' zone. Let's be one of Indonesian pride generation. Glad to meet you, have a good time n' get your nice surfing,
Peace...(*_*) !!

Kamis, 01 Maret 2012

Amazingsunset (26212).


..................
Kemarin...
Sejenak detik waktu menyeretku kesuatu tempat, kesuatu waktu, bersama sendiriku.
Disana, di gubuk itu.. yah di gubuk itu,
Kutengok kembali sebuah prasasti waktu abadi yg tergores di birunya langit, di birunya kalbu.
Aku tertegun, kian tertegun... membuka sampul merah, semerah warna ingatan
Ku duduk, kudekap erat kedua lututk yang sekejap disergap hawa dingin lorong kelam
Bibirku terkatup bisu, sebisu rahasia malam.
Senja itu masih seperti dulu, mengukuhkan sebuah keberanian akan sebuah keyakinan...
.....................................................................................................
Semilir laut mulai mengabarkan lambaian itu di seberang sana,
Kian dekat, kian kutemui sesosok wajah seruan jiwa, anggun diantara mega dan cakrawala
Kumematung, meski aliran kalimat kuuntai bersaing dengan riuh buih samudera
Kian lekat, kian tiada jarak antara pasir, ombak, mega, bahkan manusia. Tinggallah lukisan penuh akan dirimu, akan segalamu
Kala kudiam, kau mulai merangkai bahasa kehidupan, tentang nyanyian camar dan rembulan
Bersama khas senyummu, kau khabarkan akan sebuah kearifan, akan sebuah kemerduan jiwa yang seyogya...
Tak kuasa bibirku untuk menahan senyum bersama luruh sgala airmata.. deras menantang gemuruh ombak lautan
Kau masih seperti dulu, yang tak pernah berhenti membuatku terkagum,
Meski kadang itulah yang membuat jantungku terkoyak, dadaku terhenyak, meremas nafas yang semakin sesak.
Riak buih, riuh ombak, bening segara, rincik bisikan pasir, semilir belaian bayu...
Ada sayu camar dikejauhan, warna kemuning senja, serta batas ufuk barat, berpadu mengutuhkan irama nada
Yah... sahut-menyahut merangkai kidung sgala kenangan yang tak pernah mati dilubuk ingatan...
Mereka mendudukanku diatas singgasana mega, bagi raja yang mati suri
Senja kian berujud emas, aku semakin mabuk dilena secawan anggur fantasi...
Hingga sampai pada saat dimana stimulus mengajakku tertawa, namun seketika air mukaku lusuh
Rona itu kulihat kian menjauh.. kian menjauh... Sejengkal demi sejengkal... merajut kepanikan dihatiku
Bentukmu tinggallah bayangan semu...
Lemah jemariku mencoba tuk meraih kepudaranmu
Namun sekali lagi benar, kau ditakdirkan untuk tidak terjamah sgala dayaku
Alam telah merenggutmu dariku... alam telah menentang lantang egoku...
Semuanya memang telah terjadi, memang telah berlalu. Tapi tidak jiwaku.
................................................................................................................
Kusaksikan lembaran rambutmu tersapu bayu biru, menyatu bersama keemasan warna senja
Ronamu, kian laun, kian berlalu...
terseret gemerisik putih pasir, yang tak lain adalah irama sembilu yang membelai daging kalbuku...
Biar begitu, senyummu tak pernah reda, meski segala penjuru mencoba untuk menggoda
Kutertunduk seraya melantun do’a, media abadi selayak jua pernah kau katakan
Semakin kutertunduk, semakin deras aliran dimataku...
Kian kuterpuruk, kian terhimpit rongga dadaku,
Tak ayal aku menikmatinya... seakan memang benar-benar kuingin hilang bersama bayangmu yang berlalu...
Tak ingin kupeduli lalu lalang manusia didekatku, yang mungkin menganggapku gila,
Karena aku memang sudahlah gila.
......................................................
Senja beranjak menghitam, sehitam langit jiwaku yang menggigil tanpa sehelai tabir
..............................................................................
Sebelum ku benar-benar hanyut bersama lautan samudera
Kumandang maghrib menyentak pundak, merayu demi kurapat kelopak mata, Subhanallah...
Segra kukunci pintu rahasia akan sebuah keagungan, ciptaan Maha Agung dari segala yang Agung
Kutengadah wajah yang basah, hempas segala rasa bersama nafas yang sejenak tertimbun
Kuhampiri laut, kubasuh agar semakin basah, agar kunikmat rangkaian Hamdalah.
Lagi-lagi...
Kupastikan kau duduk di tempat itu, menunggu giliran untuk membuka pintu langit,
Merebahkan jiwa-raga terhadap pemiliknya...
Karena kita tau, tempat itu memang tak cukup untuk kita lakukan bersama.:)
........................................................................................................................
Selesai kulalui rangkaian napak-tilas, segra hendak kukejar realita
Kutinggalkan satu kalimat pada sang prasasti : “ aku kan kembali, jagalah ia untukku. Berjanjilah! ”
Namun sang prasasti menyahut : “ jika ia memang milikmu, mengapa aku yang harus menjaganya?? ”
Aku tertegun, berani kupikir ia berujar begitu.
Aku berkata : “ Wahai prasasti, jika bisa aku belah raga ini, niscaya akan kulakukan. Jika jiwa ini tak bersemayam di dada, biar hanya raga saja kubawa pulang. Dan jika saja aku adalah Jibril, tentu aku takkan bernegosiasi denganmu. Aku sebatas hamba-sahaya, tapi aku mengerti akan takdirku. Biarkan dengan damai aku terima, biarkan dengan ikhlas aku jalani. Wassalamu’alaikum ”
Setelah ia sahuti salamku, sang prasasti hanya diam. Entah apa dalam benaknya, faham ataukah bingung. Aku tak lagi peduli dengan opsi itu, selamanya.
EL.

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komen sobat di sini..